Istigfar

Makna Sayyidul Istighfar

Kandungan Makna dari Sayyidul Istighfar atau Penghulu Istighfar :

Sayyidul Istighfar adalah merupakan satu bentuk pengakuan makhluk yang lemah kepada Sang Khaliq Yang Maha Agung sebagai satu – satunya Sesembahan yang patut untuk disembah, Sayyidul istighfar adalah pengakuan seorang hamba yang meyakini baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan bahwa ianya sedang berada dalam satu perjanjian kepada Sang Khaliq dalam rangka untuk menjalankan segala perintahdan menjauhi semua larangan Nya sesuai dengan kesanggupan sang hamba sebagaimana hal ini dijelaskan secara tersurat dalam surah Al Baqarah ayat terakhir.

Sayyidul Istighfar juga berisi permohonan seorang hamba yang tiada mempunyai daya dan upaya akan perlindungan Sang Khaliq, terhadap segala apa yang telah diperbuat oleh seorang hamba , memohon ampunan atas segala khilaf , mengakui segala nikmat yang telah diberikan oleh Nya yang dalam hal ini mencakup banyak hal dan makna.

Sebagian ulama’ meyakini dan menyatakan bahwa Sayyidul Istighfar kurang lebih mengandung pengertian atas perjanjian dan hubungan erat antara seorang hamba dengan Tuhannya serta mengandung pengakuan atas segala kelalaian dan kelengahan manusia dalam melaksanakan kewajiban Nya. Padahal manusia telah membuat perjanjian ketika ia masih dalam rahim ibu (dalam alam roh) bahwa ia dalam hidupnya akan senantiasa berta’at dan berbakti kepada Tuhan. Mengakui atas nikmat-nikmat Tuhan, nikmat harta benda, nikmat kelengkapan anggota tubuh dan kesempurnaan panca indera, kesehatan badan, pikiran, kebahagiaan dan sebagainya.

Karenanya manusia yang selalu ingat akan Sang Pencipta akan senantiasa memohon perlindungan kepada Sang Khaliq agar supaya diampuni dari segala khilaf dan terpelihara segala nikmat karena akibat perbuatan dirinya. Disamping itu Sayyidul Istighfar adalah satu bentuk pengakuan dosa seorang hamba yang sudah mengetahui akan keterbatasan dan ketidakmampuan dirinya dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Sang Pencipta. Timbul kesadaran dari hati nurani yang tulus ikhlas disertai dengan pengharapan mohon ampunan Sang Khaliq setiap pagi dan petang.

FADILAH SAYYIDUL ISTIGHFAR

Rasulullah saw menerangkan: “Siapa membaca istighfar utama diwaktu pagi dengan penuh keyakinan sesuai arti dan tujuan kalimat tersebut, kemudian ia meninggal pada hari itu, ialah ahli surga. Dan siapa yang membaca diwaktu sore dengan cara itu, kemudian ia meninggal pada malam hari, iapun ahli surga.”

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar; dan untuk setiap kesempitannya kelapangan; dan Allah memberi-nya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim).

Bagi seorang spiritualis dan pelaku ilmu hikmah, amalan ini merupakan pondasi spiritual yang sangat penting. Oleh karenanya hafalkan dan amalkanlah Sayyidul istighfar ini.

Kandungan Makna Sayyidul Istighfar

penghulu-istighfar1

Ini adalah doa agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu karena melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.

Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.

Keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :

Nabi Shallalahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.
Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.
Kemudian dia berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menisbatkan keburukan kepada diri beliau sendiri, bukan kepada Allah Ta’alaa dan ini merupakan bentuk cara beradab kepada Allah, meskipun kita yakin bahwa segala sesuatu baik yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah dan karena takdirNya.
Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian -Nya yang tiada pernah berhenti.
Dan dia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah kesempurnaan dari apa yang terdapat / terkandung pada sebuah doa. Kerana itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling luas kandungan maknanya yang mesti akan mendatangkan ampunan bagi dosa-dosa.

Hanyalah yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Ululhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk syurga.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia keutamaan dan anugerah-Nya.

 

SAYYIDUL ISTIGHFAR

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

Kapan membacanya?

“Barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli Surga. Dan barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli Surga.” [HR. Al-Bukhari no.6306, 6323, Ahmad IV / 122-125, an-Nasa-i VIII / 279-280].

 

Makna Istighfar

Istighfar dalam pengertian bahasa adalah memohon ampunan atas segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba dengan upaya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Hal ini hendaknyalah dilakukan dengan perkataan yang tulus ikhlas semata – mata mengharap Ridha Nya yang kemudian dibarengi dengan tingkah perbuatan dengan jalan meninggalkan setiap perbuatan dosa dan maksiat yang telah dilakukan, beberapa ulama mengungkapkan istighfar berasal dari kata “alghafar” yang berarti “as-satr /menutup” untuk itu dinamakan istighfar karena mengandung ma’na menutupi sebagaimana firman Allah :

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” At-taghabun 14
Sedangkan dalam alqur’an istighfar mempunyai beberapa pengertian diantaranya :
Al-Islam: Para Ahli Tafsir seperti Mujahid dan `Akramah mengartikannya demikian berdasarkan pada ayat yang berbunyi :

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ

مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” Al-Anfal 33.

 

Doa: Ulama yang lain mengartikannya dengan do’a, setiap do’a yang berisikan permohonan ampunan disebut istigfar,antara do’a dan istighfar mempunyai kekhususan dan keumuman, Istighfar menjadi khusus jika dilakukan dengan perbuatan (al-istighfar bil a’maal) sebagaimana do’a menjadi khusus jika berisikan bukan permohonan ampunan.

 

3. Taubat: Banyak diantara kita mengartikan Istighfar dengan taubat,sperti diatas keduanya mempunyai kekhususan dan keumuman.Istighfar : Memohon ampunan dan perlindungan dari perbuatan dosa dimasa lampau. Taubat : Kembali dan memohan perlidungan dari perbuatan dosa yang sama dimasa yang akan datang. Ibnul Qoyyim berpendapat Istighfar dua bagian, Istighfar mufrad dan Istighfar yang diiringi dangan Taubat(maqrun). Pertama seperti ungkapan Nabi  Nuh terhadap kaumnya,

فقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”, Nuh:10.

Yang kedua firman Allah:

وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا

حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ

عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat” Hud : 3

Istigfar

Istighfar (إستغفار) adalah merupakan satu tindakan untuk meminta maaf atau memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap umat Islam. Hal ini merupakan satu ucapan dan atau bentuk pengakuan yang kemudian dibarengi dengan tingkah / perbuatan dan merupakan amalan yang teramat penting di dalam ajaran Islam. Tindakan ini secara harfiah dilakukan oleh setiap hamba Allah Subhanahu Wata’ala dengan mengulang-ulang perkataan baik dalam Bahasa Arab ‘astaghfirullah’ atay dengan mempergunakan bahasa indonesia yang berarti “Saya memohon ampunan kepada Allah”.Seorang Muslim dianjurkan menyebut dan atau melafadzkan perkataan ini bukan saja ketika ianya meminta ampun dari Allah sebagai doa, atau ketika melakukan kesalahan akan tetapi juga hendaknya diucapkan ketika ianya sedang berbicara dengan orang lain dan atau melihat orang lain berbuat sesuatu yang kurang benar dan atau aniaya.

Apabila seorang Muslim hendak mencegah dirinya daripada melakukan suatu perbuatan yang salah dan menyalahi aturan atau saat ia mau membuktikan bahwa ianya tidaklah bersalah pada suatu peristiwa hendaknyalah ianya menggunakan dan atau melafadzkan pernyataan ini dengan kemudian mengulangnya setelah melaksanakan shalat.Istighfar dalam filosofi Islam kurang lebih bermakna sebuah pengakuan seseorang akan suatu kesalahan yang telah diperbuatnya baik secara sengaja mapun tidak sengaja dengan memohon ampunan atas tindakannya dan terus berusaha untuk menatati perintah Sang Khaliq dan tidak melanggarnya. Dalam Islam, makna Istighfar tidak hanya terletak pada pengucapannya, namun hendaklah seseorang yang beristighfar memaknai dan menghayati apa yang ia ucapkan dalam konteks yang lebih jauh lagi dengan memperbaiki tingkah dan atau perilakunya, agar ianya terus mengingat Tuhan di saat ia tergoda untuk melakukan perbuatan dosa, dan apabila telah melakukan dosa, maka istighfar adalah titik balik baginya sebagai satu bentuk pengakuan akan kekhilafan yang telah diperbuatannya dengan harapan agar tidak terulang apa yang telah diperbuatannya

 

FADILAH SAYYIDUL ISTIGHFAR

 

Rasulullah saw menerangkan: “Siapa membaca istighfar utama diwaktu pagi dengan penuh keyakinan sesuai arti dan tujuan kalimat tersebut, kemudian ia meninggal pada hari itu, ialah ahli surga. Dan siapa yang membaca diwaktu sore dengan cara itu, kemudian ia meninggal pada malam hari, iapun ahli surga.”

 

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar; dan untuk setiap kesempitannya kelapangan; dan Allah memberi-nya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim).

 

Bagi seorang spiritualis dan pelaku ilmu hikmah, amalan ini merupakan pondasi spiritual yang sangat penting. Oleh karenanya hafalkan dan amalkanlah Sayyidul istighfar ini.

 

Rahasia Istighfar
Ketika sedang asyik berselancar di embahnya yang punya tempat penyimpanan data / file dari catatan yang berkembang didunia per-online-an, saya menemukan sebuah catatan yang isinya terkesan ditutup – tutupi / dirahasiakan , meskipun sebenarnya tidak dan bahkan disebar luaskan oleh si pemilik catatan.
Kesan ditutup – tutupi / dirahasiakan hanya sekedar pada judulnya saja , mungkin agar orang yang membaca penasaran dan judulnya dibuat begitu agar menarik pembaca halaman depan.
Berikut adalah hasil kutipan dari catatan yang saya temukan tentang rahasia Istighfar yang pada catatan ini hanya dibahas tujuh buah saja.
Istighfar adalah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan kalimat “Astaghfirullohal adhiim” dan atau kalimat permintaan / permohonan ampunan lain yang memiliki arti makna yang sama. Permohonan ampun ini hendaknyalah dilakukan oleh setiap orang yang hendak bertaubat dengan hati yang tulus, ikhlas semata mata mencari Ridha Nya dan dibarengi dengan penyesalan atas perbuatan salah yang telah dilakukan serta bertekad untuk tidak mengulanginya dikemudian hari.
Berikut inil adalah 7 rahasia istighfar disertai dengan dasar yang dipergunakan dalam rangka menyingkap 7 rahasia Istighfar

1. Mendatangkan ampunan dari Allah
“Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”. (QS Nuh: 10-12)

2. Mengatasi kesulitan dan terbukanya pintu rizki
“Barang siapa beristighfar secara rutin, pasti Allah memberinya jalan keluar dalam mengatasi setiap kesulitan, setiap kesempitan dan memberi rizki yang tiada terhingga kepadanya”. (HR. Abu Daud)

3. Menambah kekuatan
“Dan (Hud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu…”(QS Hud: 52)

4. Memperoleh banyak kenikmatan
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan”(QS Hud:3)

5. Turunnya rahmat
“Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat” (QS An-Naml:46)

6. Sebagai kafaratul majlis
“Barangsiapa yang duduk dalam satu majlis (perkumpulan orang) lalu di dalamnya banyak perkataan sia-sianya, kemudian sebelum ia bangkit dari majlis membaca (istighfar): “subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik” maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya selama di majlis itu” (HR. Turmudzi)

7. Terhindar dari azab Allah
“Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS Al Anfal:33)

Hukum Memohon Ampunan

Istighfar atau memohon ampun merupakan suatu ibadah yang mulia dan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, baik hal tersebut untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Bagaimakah kedudukan hukum Istighfar itu sendiri ? berikut adalah beberapa pendapat tentang hukum dari memohon ampun atau memohonkan ampunan :
1. Mandub. Hukum istighfar pada asalnya adalah mandub / sunnah / boleh, berdasarkan dalil al-Qur’an dalam surat Al-Muzammil 20.

وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Menurut beberapa pendapat istighfar dalam ayat tersebut terkandung makna mandub / sunnah, karena seseorang beristighfar bukan karena ianya melakukan maksiat / dosa, namun bisa jadi beristighfar untuk dirinya sendiri, kedua orangtuanya, anak-anaknya ataupun untuk kaum muslimin baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup
2. Wajib. Istighfar yang dilakuan setelah berbuat dosa, seorang hamba diwajibkan untuk segera beristighfar jika ia berbuat hal yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wata’ala
3. Makruh, Seperti beristighfar dibelakang jenazah, karena memang tidak ada sanadnya dan Rasulullah tidak menganjurkannya, yang dianjurkannya adalah beristighfar bagi mayit ketika sholat jenazah dan setelah pemakamannya.
4. Haram, Seperti beristighfar untuk orang kafir, Istighfar bagi mereka tidak ada manfaatnya sama sekali,disebabkan oleh kekufuran dan kefasikannya,walaupun ia saudara dekat kita, berdasarkan dalil dalam alqur’an yang berbunyi :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ

وَلَوْ كَانُوا أُوْلِي قُرْبَى

مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ

إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا

تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ

مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

 “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”.At-Taubah 113-114
Dan juga dalil lain yang berbunyi :

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَاسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ

يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ

لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. al-Munaafiqun 6.

Hilangkan Kebencian

Bagaimana caranya untuk menghilangkan rasa benci dan atau kebencian terhadap sesuatu atau seseorang ? Kenapa kita harus menghilangkan rasa benci dan atau kebencian terhadap sesuatu atau seseorang ?
Hilangkan kebencian di tengah perbedaan , hilangkan kebencian dan hadapi kenyataan bahwa kehidupan ini selalu berubah seperti roda yang selalu berputar kadang satu sisi berada di atas, kadang juga di bawah dan itu adalah realita, sebuah takdir yang harus dijalani oleh setiap manusia dalam menjalani kehidupan. 
Hidup memang sulit, kehidupan memang terasa susah, tapi janganlah karena kesulitan yang di alami dan kesusahan yang diderita menjadi hambatan bagi setiap diri untuk berbuat baik dengan menghilangkan kebencian.
Hidup memang susah ketika kita sedang berada dalam suatu masalah, akan tetapi setiap masalah pastinya bisa dipecahkan serta di selesaikan, tergantung bagaimana seseorang menyikapi dan mencari jalan keluar akan setiap masalah yang sedang dihadapi.
Tidak dapat kita elakkan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap manusia memang bermacam-macam, baik itu persoalan ekonomi, percintaan, persaingan bisnis , agama , status sosial dan sebagainya. Tentunya setiap masalah yang dihadapi setidaknya ternyata melibatkan orang lain. Lalu apakah kita harus membenci orang tersebut ketika ia menyakiti kita ? haruskah kita memendam benci dan dendam yang berkepanjangan serta berpikiran untuk membalas semua perbuatannya ?.
Membenci atau di benci itu tidak enak, tidak nyaman dan selalu mengganggu hati dan  pikiran yang jika kesemuanya ditahan bisa meledak seperti gunung berapi yang memuntahkan lahar dengan segala isi yang terkandung didalamnya. Dan ketika semua terlontar begitu saja, tanpa di sadari, segala macam isi yang di muntahkan telah merusak diri manusia dan tatanan kehidupan umat manusia.
Sama halnya ketika kita menumpahkan segala kemarahan, menuangkan kebencian baik itu melalui mulut kita, perbuatan kita, sikap kita yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah membuat luka dan menyakiti perasaan seseorang.
Dalam hal ini kebencian bukan hanya sebuah beban pikiran namun beban perasaan dan juga beban kejiwaan. Jadi dalam hidup, berusahalah untuk mencintai dan menyayangi semua orang dan jangan berusaha untuk membenci orang lain.

Dengan cinta dan kasih sayang maka semua masalah hidup akan terselesaikan

Taubat dan Istighfar

Kita selalu butuh akan ampunan Allah karena kita adalah hamba yang tidak bisa lepas dari dosa. Dosa ini bisa gugur dengan taubat dan ucapan istighfar. Terlihat kedua amalan ini sama. Namun ada sedikit perbedaan mendasar yang perlu dipahami. Taubat lebih sempurna dan di dalamnya terdapat istighfar. Namun istighfar yang sempurna adalah jika diiringi dengan taubat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz –rahimahullah- menjelaskan,

Taubat berarti,

الندم على الماضي والإقلاع منه والعزيمة أن لا يعود فيه

“Menyesali (dosa) yang telah lalu, kembali melakukan ketaatan dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.” Inilah yang disebut taubat.

Sedangkan istighfar bisa jadi terdapat taubat di dalamnya dan bisa jadi hanya sekedar ucapan di lisan. Ucapan istighfar seperti “Allahummaghfirlii” (Ya Allah, ampunilah aku) atau “Astaghfirullah”  (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).

Adapun taubat itu sendiri dilakukan dengan menyesali dosa, berhenti dari maksiat dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ini disebut taubat, kadang pula disebut istighfar. Istighfar yang bermanfaat adalah yang diiringi dengan penyesalan, berhenti dari dosa dan bertekad tidak akan  mengulangi dosa tersebut lagi. Inilah yang kadang disebut istighfar dan kadang pula disebut taubat. Sebagaimana hal ini diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ , أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).

Yang dimaksud istighfar pada ayat di atas adalah menyesal dan tidak terus menerus berbuat dosa. Ia mengucapkan ‘Allahummaghfirlli, astaghfirullah’ (Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu), lalu disertai dengan menyesali dosa dan Allah mengetahui hal itu dari hatinya tanpa terus menerus berbuat dosa bahkan disertai tekad untuk meninggalkan dosa tersebut. Jadi, jika seseorang ‘astaghfir’ atau ‘Allahummaghfir lii’ dan dimaksudkan untuk taubat yaitu disertai penyesalan, kembali taat dan bertekad tidak akan mengulangi dosa lagi, inilah taubat yang benar. [Sumber Mawqi’ Syaikh Ibnu Baz]

Ya Allah, terimalah taubat kami dan tutupilah setiap dosa kami dengan istighfar.

 

Teman Yang Baik Adalah Karunia

Karunia Dari Allah Subhanahu Wata’ala :

Ketika kita berbicara dan atau bertanya tentang karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala tentunya kita akan banyak sekali menemukan jawaban serta pendapat dan pandangan yang bermacam – macam dari setiap orang. Satu orang akan berpendapat dan berpandangan atau memiliki sebuah argumen tentang karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala berupa materi , kesehatan , ilmu yang manfaat , kemenangan , petunjuk dan orang lain akan memiliki pendapat yang berlainan yang Insya Allah kesemuanya adalah merupakan karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala yang patut untuk disyukuri.
Satu diantara sekian banyak karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala yang hendaknyalah kita fahami betul dan kita terapkan dalam kehidupan sehari – hari adalah teman yang baik, yang selalu mengarahkan kita kepada hal – hal yang baik dan menjalankan kebaikan.

Mencari teman adalah salah satu hal penting yang turut menghantarkan kita apakah nantinya dalam kehidupan ini kita menjadi orang orang yang diberi anugerah oleh Allah Subhanahu Wata’ala atau kita mendapat siksa dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Telah banyak dijelaskan dalam Al Quran bahwasanya hendaknyalah kita pandai – pandai mencari teman dan memilih diantara mereka siapakah yang hendaknya kita jadikan teman akrab, agar nantinya kita dapat menjalani kehidupan ini sesuai dengan petunjuk dan jalan yang di Ridhoi oleh Nya dan tidak mendapatkan siksaan dari Nya sebagaimana dijelaskan dalam banyak Firman Nya.

Tiga Macam Manusia

Berbicara tentang tipe dan atau macam manusia maka setiap orang akan memiliki pendapat dan atau pandangan yang berbeda, dimana setiap dari mereka berpendapat menurut pandangan dan juga dalil atau dasar yang mereka pergunakan.
Didalam Al Quran Al Karim terdapat tiga tipe manusia dalam kaitannya dengan penegakan syariat islam atau dalam kaitannya dengan mematuhi hukum yang telah Allah Subhanahu Wata’ala turunkan beserta sebab-sebabnya, dimana mereka yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah adalah dijelaskan sebagai berikut :
  • Karena benci dan ingkarnya kepada hukum Allah, orang yang semacam ini kafir (surat Al Maa-idah ayat 44)
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
  • Karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain dinamakan zalim (surat Al Maa-idah ayat 45).
 Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Karena fasik sebagaimana dijelaskan dalam surah Al Maidah

Tiap Umat Memiliki Aturan

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.
Jika mereka berpaling dari hukum yang telah diturunkan Allah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin ?

Keutamaan Memperbanyak Istighfar

Salah satu jenis dzikir yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak dan dikerjakan secara rutin adalah istighfar. Istighfar adalah meminta ampunan kepada Allah dengan mengucapkan doa atau dzikir yang menunjukkan pengakuan atas dosa yang kita perbuat, dengan harapan Allah akan memaafkan dan mengampuni dosa tersebut.

Keutamaan istighfar antara lain dijelaskan dalam sebuah hadits berikut ini, oe

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 6421 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 10665)

Makna hadits:

– Barangsiapa yang senantiasa beristighfar: Barangsiapa yang senantiasa beristighfar dalam segala kondisi atau meminta ampunan Allah setiap kali melakukan kemaksiatan atau menghadapi musibah.

– niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya: Allah akan menghilangkan segala kesedihan dan kegalauan yang menyempitkan jiwanya, dan menggantikannya dengan kelapangan dada dan kebahagiaan.

– jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya: Allah akan memberikan solusi dan jalan keluar atas segala kesempitan dan problematika kehidupan yang sedang ia alami.

– dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka:  Allah memberinya rizki dengan cara yang tidak pernah ia duga dan pikirkan sebelumnya. (Syamsul Haq ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 4/267)

Para ulama menyatakan bahwa sanad hadits di atas lemah karena kelemahan seorang perawi bernama Hakam bin Mush’ab. Meski demikian makna hadits di atas adalah benar dan dikuatkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan banyak hadits shahih.

Imam Mulla Ali Al-Qari Al-Harawi (wafat tahun 1014 H) menyatakan bahwa hadits di atas bersumber dari firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikannya untuknya jalan keluar dan Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa berserah diri kepada Allahs emata niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya. Dan Allah telah menetapkan ketentuan atas segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)

Makna hadits di atas juga ditegaskan oleh firman Allah melalui lisan nabi Hud ‘alaihis salam:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Wahai kaumku, mintalah ampunan Rabb kalian kemudian bertaubatlah kalian kepada-Nya, niscaya Dia mengirimkan dari langit hujan yang deras kepada kalian dan menambahkan kekuatan atas kekuatan kalian, dan janganlah kalian berpaling dengan menjadi orang-orang yang banyak berbuat dosa.” (QS. Hud [11]: 52)

Juga firman Allah melalui lisan nabi Nuh ‘alaihis salam:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

Maka aku katakan kepada kaumku: “Mintalah ampunan Rabb kalian karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan dari langit hujan yang deras kepada kalian, mengaruniakan kepada kalian limpahan harta dan anak-anak, menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan menjadikan untuk kalian sungai-sungai.” (QS. Nuh [71]: 10-12)

Salah satu ciri hamba-hamba Allah yang shalih dan meraih surga adalah banyak beristighfar, terlebih pada sepertiga malam yang terakhir, sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali Imran [3]: 17 dan Adz-Dzariyat [51]: 18. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sendiri telah member tauladan kepada umatnya dengan beristighfar minimal sebanyak 70 kali dalam sehari semalam. Maka sudah selayaknya bagi kita untuk menjadikan istighfar sebagai bagian penting dalam hidup kita sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Baca Istighfar agar Urusan Lancar

Bacaan Istighfar agar Urusan Lancar
Manusia hidup di dunia bisa jadi ada masalah mendadak, misalnya saja butuh biaya anak sekolah dan sebagainya. Yang kita ingat pertama kali tentu hutang kemana atau minta tolong teman, saudara atau bahkan tetangga kita. Alangkah indahnya jika kita langsung ingat Allah SW, beristighfar dan berdoa terlebih dahulu sebelum ingat yang lainnya.
Karena kunci dari lepasnya masalah adalah dengan selalu ingat kepada-Nya serta mohon ampunan. Barang siapa yang rajin membaca istighfar, minimal Astaghfirullah, lebih-lebih kalau Sayyidul Istighfar, Insya Allah semua urusan akan lancar.

Lafadz Sayyidul Istighfar tersebut adalah :

“Allahumma anta Rabbi Laa ilaaha illa anta, Kholaqtanii, wa anaa abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika, wa wa’dikaa maa astato’tu, a’udzubikaa min sari maa shona’tu, abuuka laka, bib’matika ‘alayyaa wa abuuka bidanbii fghfirlii fainnahu la yaghfiruddunuuba illa anta.”

Artinya:

“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku dan akulah hamba-Mu. Akan kutepati janjiku (kepada-Mu) dengan seluruh kemampuanku.

Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan-kejahatan yang telah kuperbuat. AKu mengakui di hadapan-mu anugerah yang Engkau limpahkan kepadaku.

Kuakui dosa-dosaku. AMpunilah dosa-dosaku. Kerna tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku selain Engkau.”
(HR. Bukhari dan Nasai).

Diriwayatkan oelh Syaddad bin Aus ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang tetap beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuknya jalan keluar dari setiap kesempitan dan menjadikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan memberinya rezeki yang tidak diperhitungkan.”
(HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah dan Hakim).

Istighfar Nabi Adam

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Keduanya (Adam dan Hawa) berkata : “Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi” Al A’raaf : 23
Dalam penggalan Surah Al A’raf diatas dijelaskan bahwasanya Nabiyullah Adam Alaihi Salam, memohon ampunan atas perbuatan dosa yang telah dilakukan olehnya karena termakan oleh bujukan syeithan, yang akhirnya membuat Nabiyullah Adam dan isterinya yang semula berada di syurga diturunkan kebumi sampai dengan waktu yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Entah kapan waktu itu hanya Allah Subhanahu Wata’ala saja yang mengetahui karena Allah Subhanahu Wata’ala yang menentukan waktunya, serta memang dirahasiakan agar supaya masing – masing diri manusia mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka baik itu mendapat siksa maupun mendapat ampunan semuanya adalah berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala.
Penggalan ayat diatas memberikan kita satu gambaran dan pelajaran atau petunjuk kepada kita bahwasanya ketika kita umat manusia sebagai anak cucu adam yang memang telah ditakdirkan menjadi musuh dan bermusuhan dengan syeithan maka kemudian hendaklah kita menganggap syeithan dan setiap perbuatannya menjadi musuh sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firman Nya :

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh mu, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”

Do’a / bacaan istighfar yang diucapkan oleh nenek moyang kita Nabiyullah Adam dan Ibu Hawa dapat kita pergunakan dan atau kita amalkan ketika kita merasa dan atau menemukan serta melakukan perbuatan – perbuatan syeithan , serperti berzina , minum khamr , berjudi dan perbuatan syeithan lainnya, dengan maksud dan atau tujuan agar kita terhindar dari nya dan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s